Tersungkur, Terduduk, Tertewas:

Dia sudah tidak punya siapa lagi melainkan dirimu. Saban hari puisi puisi itu dikarang jemari lembut tanpa pendengar tanpa pembaca terbiar kaku diatas lipatan lipatan angin November. Kehilangan yang dirasainya itu terlalu dalam, lebih dalam daripada lubuk hati yang paling dalam, tanpa mampu memberi noktah. Dia kerinduan. Mencarimu didalam diam, menggapai cinta mu didalam kebisuan, mencapai senyum mu tanpa bicara. Dia tersungkur, terduduk dan tertewas.

tersungkur, terduduk dan tertewas di riba kerinduan yang memuncak.

0 tulisan tambahan:

 
 
Copyright © Metafora Post Modernisme
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com