Hanya ia yang menjadi saksi keajaiban senyuman kita. Apatah lagi dikala tiada kata kata yang mampu memberi makna pada apa yang telah kita kecapi bersama disaat itu. Jika dinding dinding itu mampu berbicara, akan aku tulis kembali saat saat indah kita ketika itu melalui pujangga dinding dinding bisu itu. Dikala kau didalam pelukan ku, disaat aku mengucup dahimu dan kau mengucup dahiku. Nafsu bagaikan hilang kata kata. Hanya cinta dan segala keajaibannya. Hanya cinta dan segala keindahannya. Hanya cinta dan seribu satu lafaznya.
Aku ingin hidup ketika itu. Aku ingin terus mekar didalam lena itu. Tika aku menjulang kasih sayangmu, saat aku setiap detik untuk terus bersama mu, didalam rangkulan mewah mu, didalam halus bicara katamu, didalam indah senyum tawamu, dikala tiada resah, tiada gundah hanya indah.
Jika dinding dinding itu mampu berkata kata, ku kan pinta sebuah syair daripadanya, agar dapat aku kenang kembali saat saat itu, saat saat kita bersama.
Aku ingin hidup ketika itu. Aku ingin terus mekar didalam lena itu. Tika aku menjulang kasih sayangmu, saat aku setiap detik untuk terus bersama mu, didalam rangkulan mewah mu, didalam halus bicara katamu, didalam indah senyum tawamu, dikala tiada resah, tiada gundah hanya indah.
Jika dinding dinding itu mampu berkata kata, ku kan pinta sebuah syair daripadanya, agar dapat aku kenang kembali saat saat itu, saat saat kita bersama.
0 tulisan tambahan:
Post a Comment