Hari Ketigapuluh:

Tidak pernah lagi sebuah kasih sayang begitu menyakitkan. Menjadi duri yang menusuk emosi dan menikamnya berkali kali, tanpa henti setiap detik, saat dan hari.

Tidak pernah lagi sebuah kecintaan begitu memeritkan. Cinta tapi penuh duka. Menjadi racun bisa yang membunuh jiwa jiwa dan menikamnya berkali kali, tanpa henti setiap detik, saat dan hari.

Tidak pernah lagi sebuah kerinduan yang sebegitu memedihkan. Setiap kali tergambar wajahnya, setiap kali itu juga aku berduka. Rindu tapi penuh duka. Dan ia membunuh jiwa jiwa ini setiap detik, saat dan hari.

Tidak pernah lagi kata kata cinta begitu menyeksakan hati. Indah tetapi begitu menyeksa kan hati hati merentap segala emosi dan membunuh segala rasa.

Tidak pernah lagi pertama yang dihalusi jalur jalur kasih sayang, kerinduan, kecintaan dan kata kata cinta yang begitu meracuni kehidupan. Semakin ia mekar semakin ia membunuhku. Semakin ia subur semakin ia meracunku. Semakin ia membesar, semakin ia menyeksa jiwa jiwa itu.

Dan setiap waktu, detik, saat, minit, jam. hari, minggu, bulan malah tahun, semakin kuat rasa kasih sayang itu. semakin kuat rasa kerinduan itu. semakin kuat kecintaan itu. semakin kuat kata kata cinta itu terlafaz tanpa sedar. Ia tidak akan hadir tanpa kesucian dan ros ros putih.

Tapi kesucian dan ros ros putih itu membunuh.

0 tulisan tambahan:

 
 
Copyright © Metafora Post Modernisme
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com